One
sunday on sunday afternoon
I straw my way along the avenue
Away my hand to my lovely friendly neighbours
On that lovely sunday afternoon
I straw my way along the avenue
Away my hand to my lovely friendly neighbours
On that lovely sunday afternoon
(Sunday
Afternoon - Mocca)
lagu mocca menemani hari minggu Alika hari
ini. Alika sudah tidak sabar buat Sunday
afternoon hari ini.
Alika “senangnya hari ini. Hihi.”
Sekarang saatnya Alika
untuk mengecek peralatan tempurnya. Dandanan minimalis, sepatu putih, jam
tangan putih, ponsel, dompet dan hal yang paling penting dan nggak boleh
ketinggalan adalah… Kamera! Ya benda satu ini bagi Alika adalah benda yang
paling penting dari handphone dan
dompet sekalipun.
“Sip! Gue sangat siap buat
Sunday afternoon hari ini. Saatnya
berangkat!”
Alika menaiki sepeda
berkeranjang putih sambil mendengarkan lagu dari Ipod nya menuju taman dekat rumahnya. Mengayuh dengan riang bahkan
terkadang Alika bersenandung kecil melantunkan lagu Mocca kesayangannya.
Terkadang orang-orang disekitar Alika akan menganggap Alika gila karena
senyum-senyum sendiri. Tapi Alika tidak akan memperdulikannya.
**
Setelah sampai di taman, seperti biasa Alika langsung
mencari tempat kesayangannya.
“Yap kosong, langsung kesana aja ah.”
Kemudian Alika langsung menyenderkan sepedanya ke pohon
terdekat. Kemudian ia langsung duduk di rumput, di bagian kesayangannya itu. Setelah
itu, mulailah ia mengarahkan pandangannya ke sekitar delapan meter di depannya.
Menatap objek yang menjadi alasan mengapa Alika bisa menjadi bahagia seperti
sekarang ini. Cowok itu. Ya itulah alasannya mengapa Alika sering mengunjungi
taman di dekat rumah nya itu.
“Yes ada! Hihi”
“Langsunng ajadeh. Mana ya kamera gue?”
Setelah itu, Alika
langsuh beraksi dengan benda kesayangannya itu. Ia langsung mengarahkan lensa
kamera ke tempat cowok itu, kemudian…jepret.
“Oke untuk beberapa saat ini gue akan tetap berada
disini. Menghirup udara yang segar, menikmati pemandangan yang indah di sore
hari dan tentunya memandangi si dia. Hihi.”
Hari minggu sore adalah jadwal Alika untuk mengunjungi si
dia. Ya seperti sore ini.
Cowok
berkacamata dan mempunyai lesung pipi yang selalu sendiri dan ditemani
buku-bukunya sambil mendengarkan music lewat earphone. Dia seperti sibuk sedang menulis. Entahlah, mungkin
sedang belajar. Ketika sedang memandangi cowok tersebu.t tiba-tiba saja dia
tersenyum sambil melihat bukunya.
“Pemandangan langka nih! Jepret.”
Alika langsung mengambil foto cowok tersebut.
“Yes! Dapet foto dia lagi senyum. Hihi.”
“Ya Tuhan, terimakasih telah engkau ciptakan makhluk
seganteng dia,” kata Alika dengan lebay.
Alika tidak tahu apapun tentang si cowok itu yang dia
tahu hanya, semenjak beberapa minggu kebelakang Alika sering memperhatikan
cowok itu di taman ini.
“Seandainya gue
bisa kenalan sama dia, “Hai cowok manis, kenalin gue Alika mahasiswa tingkat
pertama yang hobi bawa kamera kemanapun gue pergi. Penggemar warna putih. Salam
kenal ya. Hihi.”” Batin Alika.
**
Awal kenapa Alika bisa
sampai ditempat itu berawal dari mama Alika yang memintanya untuk metik bunag
yang ada di taman tersebut. Awalnya Alika kesel.
“Mama ini memang
suka ada-ada aja. Masa nyuruh anaknya metik bunga di taman? Untung gue baik
hati dan berbakti pada orang tua. Huh.” Gerutu Alika dalam hatinya.
Saat itulah pertama kalinya Alika melihat sosok cowo
ganteng nan manis itu. Dan saat itulah Alika langsung penasaran dengan sosok
lelaki itu dan ingin melihatnya lagi.
“Untung saja mama nyuruh
gue metik bunga di taman, jadi ketemu deh
sama cowok itu” Batin Alika kegirangan.
Alike pun melanjutkan aksinya dengan mengambil foto cowok
itu.
“Hah! Ya ampun! Dia ngeliat
ke arah gue!”
Saat Alika sedang asyik mengambil foto cowok itu ternyata
dia melihat ke arah Alika. Mungkin dia sadar jika Alika sedang mengambil
fotonya sejak tadi.
“Ya ampun! Kalau dia tahu gimana, dong?” sebut Alika dengan cemas.
**
Kriiiing….
Kriiing…
Kriiing…
“Hmmm, itu suara apasih? Perasaan
gue lagi asyik ngobrol sama cowok berkacamata itu deh. Kok tiba-tiba ada suara
nggak jelas begitu, ya?” kata Alika sambil
mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya sambil menggeliat di temat yang paling
nyaman itu.
“Cowok
kacamata taman? Hah!” Alika kemudian Refleks
membuka matanya dan mematikan jam bekernya yang bordering sejak tadi di atas
meja putih.
“Jam
satu siang? Hah gue kira gue bangun kesiangan, eh kesorean maksudnya”
Dan ternyata kejadian itu hanyalah sebuah mimpi di siang
bolong. Tapi itu merupakan mimpi yang indah bagi Alika.
“Cuma mimpi?
Tidur siang memang menyenangkan” sebut Alika yang sangat senang karena bermimpi
dengan lelaki idamannya itu.
“Nyalain lagu ah!”
My hands are held
while we’re crossing the street.
It’s all I could hope for
Seeing your smile when I tickle your
tummy is all I ever wish for
Sometimes you’re sweeter than a pie
made of lemon
But sometimes full of secrets like Clark
Kent
Twist me around
All I need is someone who’s to
stroke my hair
Like a soft blowing breeze
My poor sentimental side
Twist me around
(Twist Me Arround - Mocca)
Alika bangun
dari tempat tidurnya yang berantakan kemudian merapikannya sammbil mengikuti
ketukan lagu Mocca yang sedang didengarnya. Langkah samping kanan. Langkah
samping kiri. Bergantian. Sedikit menggoyangkan pinggulnya, menggerak-gerakkan
tangan, kenudian memutarkan badan mengikuti lantunan lagu. Sesekali ia ikut
menyanyikan lagi tersebut. Hari ini adalah hari yang selalu ia tunggu. Ya! Hari
ini adalah hari minggu hari dimana Alika akan pergi ke taman untuk melihat si
cowok tersebut.
Setelah merapikan ranjang putih nya ia berjalan ke depan
cermin ukuran satu badan yang menempel indah di kamarnya. Alika pun dengan
iseng melihat hasil jepretannya yang
tertempel tidak beraturan disela-sela samping cermin itu.
“Foto cowok berkacamata itu. Hihi. Tampannya.” Sebut
Alika sambil senyum-senyum sendiri.
Hari
ini Alika berniat untuk berkenalan dengan cowok yang ada di taman itu. Dan saat
itulah Alika menyiapkan kata-kata untuk berkenalan dengan lelaki tersebut. Dan
Alika pun memperagakn beberapa adegan kenalan yang menurut nya kece abis.
“Halo, gue Alika”
Adegan pertama dengan menjulurkan tangan dan hanya tersenyum tipis. Tipis banget.
“kok kayanya gue jutek gitu, ya? Ganti yang lain deh”
“Haiiii,
gue Alika!” Adegan kedua sambil mengulurkan tangan dan menyuguhkan wajah yang
sangat ceria. “Tapi lebay banget nggak,
ya?”
“Ya
ampun ternyata ini lebih sulit dari pada ujian kalkulasi”
Alika sudah mencoba berbagai gaya dan tidak terasa
sekarang sudah jam setengah tiga. Alika pun menyerah dan ia pun langsung
bergegas mengambil handuk di teras kamarnya. Ia segera bersiap-siap untuk
mengunjungi taman di sore hari ini.
**
Alika pun tiba di taman
dan ia sudah ada di tempat yang biasa. Alika sudah memantapkan niatnya untuk
mengajak cowok itu berkenalan, walaupun ia masih terlihat raugu-ragu. Baru saja
ia hendak melangkah ke tempat lelaki itu berada, tiba-tiba saja ada seorang
perempuan cantik dan anggun yang datang ke tempat lelaki itu berada. Alika pun
dengan refleks.
All that I need now
Is for the rain to fall from the sky
To wash away my pain inside
All that I need now
Is for the rain fall from the sky
The rain fall
The rain fall
(The Rain Will Fall - Mocca)
**
“Kamera gue hilang!” teriak Alika panik
Bagi Alika ini adalah sebuah hal yang paling buruk bahkan
lebih buruk ketika dia tidak lulus ujian mata kuliah fisika dasar karena kamera
adalah barang yang paling berharga baginya lebih berharga dari apapun.
“Gue rasa ini bukan saatnya mengingat pengaamn
menyedihkan itu. Karena ini lebih menyedihkan!”
Alika sudah mencari kemana-mana, ia sudah muter-muter semua tempat tapi hasil nya
nihil. Dan sekarang sudah jam sepuluh malam dam Alika tetep kekeh untuk mencari
kamera nya itu. Dan Alika semakin kesal karena semua oranng di rumah tidak ada
yang mau membantunya.
“Semua gara-gara cowok itu. Iya, pokoknya ini semua
gara-gara cowok itu!”
Terakhir kali ia liat kamera itu ssat dia berada di
taman, saat Alika hendak menuju ke tempat lelaki itu berada dan Alika melihat
seorang gadis menuju ke tempat lelaki itu berada dan akhirnya Alika merasa
sangat kesal dan meninggalkan kameranya di rumput dan langsung pergi
meninggalkan taman begitu saja tanpa memikirkan kameranya.
“Kak, gue capek! Lo mau cari kamera itu sampe malem juga
terserah elo deh. Gue pengen balik. Besok hari senin dan gue ada ulangan
biologi.” Rengek adik Alika yang masih duduk di bangku SMA itu.
“Hiks gue nggak mau kaya gini, gue mau nya hari in
kenalan sama cowok itu, tapi dia udah sama cewek lain”
But why? Should I
believe my dream will come true
And I don’t have any reason to
believe that all of my dreams will come true
(Dream - Mocca)
Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, sabtu dan bahkan
hari ini pun Alika tetap kekeh mencari kameranya. Semua orang yang ada di taman
itu pun sudah di Tanya oleh Alika sampai tukang bersih-bersih pun tak luput di
Tanya oleh Alika. Tapi kamera itu tidak ditemukan juga.
“Apa gue harus bikin pengumuman, apa gue harus bikin
selebaran, atau gue harus lapor polisi? Kesel kesel!” Gerutu Alika yang masih
mencari kameranya.
Hari ini adalah hari minggu sore. Harus nya Alika sedang
duduk di tempat yang biasa iya jadikan sebagai tempat untuk meliaht lelaki itu.
Namun kali ini dia sudah tidak bersemnagat seperti biasnya
“Gue pasrah, dia terlalu jauh buat gue.” Batin Alika.
Tiba-tiba ketika Alika ingin pulang ada orang yang
memanggilnya. Suara itu adalah suara laki-laki.
“Hei,” panggil suara laki-laki itu dari belakang smabil
menepu pundak Alika.
Alika menoleh dan
ternyata dia adalah laki-laki yang selama ini dia pandangi di taman.
“Ini punya lo bukan?” Tanya cowok yang kini sudah ada di
depan Alika.
“Ah! Itu kan kamera gue!” Alika hanya bisa terdiam dan
memaku
“Eh bentar deh itu
kan kamera gue, dan semua isi kamera itu kan forto dia, kalo dia liat gimana?
Ya ampun. Mati lah gue.” Tanpa sadar Alika menepuk jidatnya.
“kok nepuk jidat, sih? Ini punya lo, bukan?” Tanya
laki-laki itu sambil senyum.
“Ya Tuhan kenapa
senyumnya ganteng banget, ya? Terus, sedekat ini pula sama gue.” Batin
Alika dan ia pun menjadi salah tingkah.
“hei, kok ngelamun?” Tanya dia lagi sambil mengibaskan
tangannya tepat di depan wajah Alika.
“Kok bisa ada di lo?” Tanya alika dengan heran dan dengan
tingkah yang gugup.
“Gue gak sengaja nemuin ini disini.” Jawab laki-laki itu.
“Kok lo tau itu punya gue?” Tanya Alika lagi
“Gue liat isinya” jawab laki-laki itu.
“kalo dia liat
isinya berarti dia juga liat foto-foto dia sendiri dong? Kena gue!” Batin
Alika.
“Nih” laki-laki itu menyodorkan kamera itu ke Alika.
Alika pun meraih kameranya dari tangan laki-laki itu
“Makasih, ya!”
“Oh iya, gue juga punya sesuatu buat lo,” kata laki-laki
itu sambil mangambil sesuatu dari tasnya.
Ia mengeluarkan buku dan menyerahkannya kepada Alika.
Alika pun bertanya-tanya dalam hatinya.
“Coba deh buka,” kata laki-laki itu.
Alika pun meraihnya. Mengaitkan tali kameranya ke
lehernya terlebih dahulu, kemudian berniat membuka buku yang laki-laki itu
berikan. Alika memperhatika covernya
“Ini bukannya buku yang selalu setia nemenin dia di taman
ya?” batin Alika
Kemudian Alika membuka
buku itu dengan perlahan. Dan ternyata itu adalah buku sketchbook. Buku khusus
buat menggambar. Halaman demi halaman di buka perlahan oleh Alika. Mulai dari
gambar pohon, gambar daun, gambar sepeda. Setiap halamnnya penuh dengan coretan
tangan yang kemungkinan karya dia. Gambarnya bagus banget. Ternyata selama ini
dia sibuk menggambar
“Eh, kok ini mirip gue ya?” batin Alika.
Alika
membuka satu halaman dimana ada gambar seorang perempuan dari jarak yang cukup
jauh yang sedang memegang kamera. Seolah digambar ketika sedang membidik kea
arah depan. Baju lengan tiga perempat, sepatu tali, jam tangan kotak.
“Lho, ini bukannya dandan gue dua minggu yang lalu?” Batin
Alika dengan cemas.
“Gue suka taman ini,” katanya mengalihkan perhatian Alika
ke wajahnya.
“Gue suka ngegambar sambil dengerin lagi di taman ini.”
Kata dia senyum
Alika tetap membisu
seperti tak tau harus berkata apa.
“Sampai suatu hari ada seorang cewek yang kepergok lagi
ngarahin kamera kearah gue.” Kata dia lagi.
“Eh jangan-jangan itu gue?” Alika menebak-nebak dalam
hatinya.
“Tapi si cewek itu malah pura-pura gak liat.” Tambah dia.
Wajah Alika memerah.
Alika sangat malu.
“Gue mau kenalan sama cewek itu.” Kata dia senyum
“Lesung pipinya, Ya Tuhan gantengg banget! Eh tapi gimana
sama cewek itu ya?” Alika berhenti tersenyum.
“Gue jomblo lho.” Kata laki-laki itu masih senyum. Seperti
laki-laki itu bisa membaca pikiran Alika.
“Lo udah punya pacar?” Tanya dia.
Alika menggeleng.
“Raihan,” dia menyodorkan tangannya sambil tersenyum
manis.
Alika pun meraih tangannya, “Alika,” balasnya sambil
tersenyum
I’ve got the best
thing in the world
Cozi got you in my heart
And this screw little world
Let’s hold hand together
We can share forever
Maybe someday the sky will be
colored with our love
(The Best Thing -
Mocca)
Komentar
Posting Komentar